Toleransi,
(untuk apa? Untuk siapa?)
Untuk apa (untuk siapa) cahaya
natal
Untuk apa (untuk siapa) petasan
tahun baru
Untuk apa (untuk siapa) api
ramadhan
Untuk apa (untuk siapa) (untuk apa,
untuk siapa)
(Catatan
Ganti Tahun – Gatholoco)
Hai
teman-teman, sudah update apa instagram hari ini? Masih belum rapi kah feed 3
foto atau 6 foto yang dibuat? Sudah tahu jika ibu-ibu Kendeng sedang berdemo
sampai kaki mereka disemen? Jika belum tak apa-apa kita siswa biasa kok bukan
mahasiswa, sepertinya. Lirik lagu diatas mungkin teman-teman belum pernah
dengar, karena hanya scene pinggiran JNM yang berani menyanyikannya, bukan di
acara macam DWP dan WTF yang harga tiketnya cukup untuk makan saya sebulan.
Perkenalkan
saya murid biasa yang beberapa saat lagi kehilangan bahan bacaan panutan
mojok.co dan mungkin aku akan lebih sering membaca berita yang mereka sebut
Line Today dan timeline teman-teman yang selalu mengalir setiap hari, bakat
juga jadi penulis sepertinya. Pertama-tama tulisan ini tidak akan banyak
kutipan buku dan kata-kata aktivis yang terkenal karena apa? Membaca juga
jarang, sama kan kita? Tugas kuliah dan deadline skripsi bab 1 jauh lebih
penting kan.
Jadi
sekarang untuk apa bicara toleransi? Toh kampus kita juga Islam semua kan?
Bahkan teman-teman yang berasal dari jauh juga mungkin belum tentu punya teman
yang berbeda agama disini, untuk apa kita permasalahkan juga, bahkan bab 1
skripsi dan tugas-tugas lain jauh lebih penting kan? Minimal untuk saya
sendiri.
Tapi
cobalah teman-teman turun sedikit diperempatan besi kalau masih ingat disana pernah
ada poster besar yang kurang lebih berisi slogan solidaritas antar komunitas mereka
yang dalam sebuah perkumpulan dilempar bom dan kasus saat partai Islam di Jogja
berkampanye dengan arogan yang mungkin bukan rahasia umum juga, hanya jika
teman mau sedikit turun tidak sekedar bermain dari kampus-nol km tiap malam dan
mampir jalan magelang jika ada waktu luang maka makna toleransi akan sedikit
ditemukan.
Mungkin
tulisan saya sedikit berusaha untuk membahas tentang toleransi antar sesama
manusia karena menurut saya toleransi tidak terbatas agama sesungguhnya kita
kan semua sama-sama manusia. Bahkan kita yang masih agama yang sama juga saling
merasa “sok” toleran padahal saat bertemu dengan teman yang memakai motor butut
lebih asik jika kita melihat dari kaca spion mobil kita, sesama manusia tapi
beda kasta kita.
Bicara
toleransi tidak lepas dari wacana intoleransi yang sejak beberapa hari menjadi
topik hangat yang ramai juga awalnya karena pilkada DKI, walaupun maaf menurut
saya berita pilkada DKI tidak penting juga untuk saya karena kosan berada di
Jogja, di Jakarta pun dulu hanya ikut study tour SMP, menurut saya tidak ada
dampak dan manfaat bagi saya mendengarkan perdebatan Debat Cagub yang setelah
acara tersebut lalu banjir status kritis bagai mengamat politik, walaupun biasa
yang menonjol hanya joke, meme, atau lelucon,lalu untuk apa ditonton? mereka
toh pada akhirnya bohong juga karena namanya pilkada hanya permainan “Language
Game” kata dosen saya. Pada akhirnya saya hanya ingin sedikit bertanya “Dimana pancasila saat mereka berdebat
tentang jenazah yang tidak diterima disholatkan? Dimana pancasila kita saat
pemimpin dengan keyakinan minoritas tapi mencoba disamakan haknya dibumi
nusantara ini? Pada akhirnya juga kalah dengan keyakinan mayoritas dan sikap
haram-mengharamkan? Dan ditutup dengan dimana kita saat isu-isu toleransi
sedang hangat dibicarakan?”
Tapi
maaf jika tulisan ini terlalu tajam karena sesungguhnya ini hanya opini biasa
dan jika merasa tidak setuju dan tidak suka coba balas dengan membaca berita
tentang aksi #DipasungSemen2 atau berita terkait masalah bangsa, jika masih
tetap tidak sempat memang sesungguhnya kita belum jadi mahasiswa, hanya siswa.
Dan akhirnya solusi terbaik adalah berpikir jika kita hanya mahkuk biasa dan
tidak pantas kita membeda-bedakan orang lain apalagi karena isu agama, mulailah
berpikir sebagai mahasiswa dan bergeraklah jika tidak malu terhadap jas almet
mu karena hanya basah saat rapat-rapat dan verif dana event saja. #POTRETPERDAMAIAN
0 comments:
Post a Comment